Google

Web brokenplectrum.blogspot.com

Saturday, August 18, 2007

17 Agustus 2007: Itulah Hari Kemerdekaan Kita!

Jumat, 17 agustus 2007 baru saja kita lewati. Dihari yang sama, Jumat, 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB di Lapangan Banteng, Ir. Soekarno membacakan naskah proklamasi yang menyatakan kemerdekaan Indonesia. Saat kita lihat hari ini, kemerdekaan tampak selayaknya seperti catatan dalam tissue yang terkena percikan air. Semakin pudar dan terlihat layu.

Dimana kemerdekaan yang telah kita tempa selama enam puluh dua tahun ini? E-world sepertinya mengalahkan persatuan kesatuan yang dibacakan Sang Orator pada tanggal yang sama. Penyimpangan nilai-nilai serta norma-norma yang sejak kecil dididik oleh para orang tua diabaikan begitu saja, dengan alasan film-film serta media yang semakin mengampanyekan kemerdekaan dalam hal yang menyimpang.

Kapitalis sepertinya mulai dibangun dari mulai penjajahan ekonomi yang menimbulkan kesenjangan sosial serta pembentukan kelas-kelas sosial yang semakin kontras dan polemik. Hasrat satu nusa-satu bangsa telah berubah menjadi satu raga, satu suara. Berbagai perbedaan sosial yang mementingkan diri sendiri, justru mengangkat kemerdekaan-kemerdekaan antar daerah yang menyebabkan konflik serta perpecahan satu sama lain. RMS, GAM, Papua merdeka, dan segala macam front-front yang ingin memisahkan diri dari bumi pertiwi ini bermunculan dengan alasan-alasan yang semakin kongkrit. Disisi lain, negara-negara maju semakin mendukung keberhasilan front-front tersebut untuk dimanfaatkan secara geografis, untuk kepentingan kapitalis lainnya.

Pemanasan global serta pertumbehan penduduk yang semakin tidak terkontrol, membuat Indonesia kembali galau mengambil segala keputusan. Suatu negara akan terlihat di kancah internasional melalui bidang-bidang yang mempunyai ciri khas suatu negara tersebut. Bagaimana Indonesia bisa menunjukkan ciri khas bangsanya jika perbedaan pendapat serta kebebasan yang disertai dengan pendidikan yang tidak merata, masih menjadi benang yang terkena rintik hujan?

Pendidikan, inovasi, implementasi, serta semangat kebangsaan persatuan dan kesatuan adalah jawaban dari pertanyaan, apa yang harus kita lakukan agar kita bisa keluar dari berbagai macam bencana serta masalah yang dihadapi. Sekarang, ayo kita gunakan kesempatan kita sebagai mahasiswa ITB yang telah mempunyai contoh almamater-almamater yang berjuang keras membangun bangsa ini menjadi bangsa yang mandiri, serta nilai-nilai sejarah yang telah menghantarkan bangsa kepada kemerdekaan ini untuk bekerja keras secara intelektual, bersaing secara global, serta sehat. Caranya adalah, tuntutlah ilmu setinggi-tingginya untuk hal-hal yang menunjang implementasi yang bermanfaat untuk bangsa ini. Bangsa ini mempunyai pemuda-pemudi yang telah menoreh nama-nama baiknya di kancah nasional serta internasional, dan kita, sebagai mahasiswa terbaik bangsa, mempunyai kesempatan untuk itu. Seperti kata Triharyo Soesilo, lulusan Teknik Kimia 1977, Direktur PT Rekayasa Industri, 100% pupuk yang kita gunakan di Indonesia adalah pupuk buatan Indonesia. Serta 70% minyak yang digunakan di Indonesia adalah minyak produksi menunjukkan salah satu contoh pengabdian bangsa Indonesia melalu intelektualisasi serta kontribusi. Sekarang mari kita manfaatkan momentum kemerdekaan kita ini untuk lebih mengarahkan cita-cita kita lebih kepada kontribusi terhadap bangsa. Merdeka!

1 comment:

Dimas Prasetyo M. said...

Wah Yok, Your writing is so cool. But, i never let Your almamater ITB participate allonely in Global Competition... My Almamater, University Of Indonesia must also take part in depeloping our Lovely Country Republic Of Indonesia...

Keep struggle for the glorious of our Indonesia.

Keep In touch with me...

© Broken Plectrum 2006 by Tri Handoyo.

All contents on this weblog, otherwise noted, is licensed under Creative Commons.